
JAKARTA — Direktorat Jenderal Imigrasi menggandeng Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara (FTMD) Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk menginisiasi program Pagar Digital, sistem pengawasan perbatasan berbasis drone guna memperkuat pengawasan keimigrasian di wilayah perbatasan darat dan laut Indonesia. Inisiatif ini lahir dari kebutuhan menghadirkan teknologi karya anak bangsa untuk mendukung pengamanan wilayah yang luas dan rawan perlintasan ilegal.
Program tersebut diprioritaskan di perbatasan darat Kalimantan-Malaysia, Papua-Papua Nugini, serta Nusa Tenggara Timur-Timor Leste. Sementara untuk wilayah laut, pengawasan difokuskan di Kepulauan Riau, Batam, dan jalur penyeberangan sekitarnya. Langkah ini diharapkan mampu mengatasi keterbatasan pengawasan terhadap jalur-jalur tidak resmi yang kerap dimanfaatkan untuk pelanggaran keimigrasian dan kejahatan lintas batas.
Pagar Digital akan memanfaatkan teknologi drone hasil pengembangan ITB bersama PT Dirgantara Indonesia sejak 2019. Sistem ini menggabungkan Drone HALE untuk pemantauan jarak jauh selama 24 jam dan Drone Mantis untuk melakukan identifikasi visual terhadap pergerakan mencurigakan. Informasi yang diperoleh akan dikirim secara real-time kepada petugas sehingga mempercepat respons pengawasan dan penindakan di lapangan.
Direktur Jenderal Imigrasi Hendarsam Marantoko menegaskan kolaborasi ini merupakan langkah strategis untuk memperkuat pengawasan perbatasan sekaligus mendorong kemandirian teknologi nasional. Melalui pemanfaatan sistem siber dan patroli udara berbasis teknologi dalam negeri, pemerintah berharap dapat menekan pelintas ilegal, mencegah tindak pidana perdagangan orang (TPPO), serta memperkuat perlindungan kedaulatan negara.


